Welcome here! Dont't forget to push button follow. +Follow | Dashboard
Diaah Diooh's Blog

best friend become to love -
Selasa, 27 Maret 2012 | 04.28 | 0 sweets
Sabtu malam, seorang gadis sedang memandangi langit yang bertabur bintang. Hingga seorang pemuda menghampiri gadis yang sedang berdiri di balkon kamarnya ini.

“loe harus ikhlasin dia Ra. Tuhan itu baik, gue yakin Tuhan udah ngerencanain sesuatu yang indah dibalik semua ini.” ujar Lian, pemuda itu sambil menepuk pundak sang gadis.
“gue sulit buat mempercayai semua ini Yan, gue ngga nyangka, dia cepet banget ninggalin gue. Ini semua salah gue, gue yang nyebapin dia meninggal. Ini semua gara-gara gue Yan! Coba aja malam itu gue ngga suruh dia buat jemput gue, gue ngga bakal kaya gini dan dia ngga mungkin meninggal!”

Aira, gadis itu, sudah tidak sanggup lagi membendung air matanya sendiri. Air mata pun menetes satu demi satu dan mengalir di wajah mulusnya ini. Lian segera merengkuh Aira. Kini Aira berada dalam pelukan hangat Lian. Gadis ini memang butuh ketenangan.

“berhenti buat nyalahin diri loe sendiri. Ini semua udah jadi rencana Tuhan Ra. Dan loe ngga bisa hindarin itu semua. Loe harus ikhlasin Reno Ra, biar dia bisa tenang disana. Loe harus bisa bahagia tanpa Reno Ra.”

Lian mengusap-usap kepala Aira. Aira menumpahkan air matanya di bahu Lian.

Aira terdiam memikirkan perkataan Lian. Sungguh malang nasib Aira. Setelah pacaran dari awal masuk SMA sampai Aira duduk dikelas 2 ini, ia harus merelakan Reno untuk pergi meninggalkannya jauh. Sangat jauh. Aira sangat menyayangi Reno, begitu juga dengan Reno.

Reno kecelakaan ketika hendak menjemput kekasihnya ini. Mobilnya menabrak truk. Dan dia mengalami pendarahan yang sangat hebat. Sampai akhirnya, Tuhan mengutus utusannya untuk mencabut nyawa Reno. Setelah Aira mengetahui bahwa Reno telah pergi meninggalkannya, dia tidak bisa mempercayai bahwa secepat ini Reno pergi meninggalkannya.

Dua minggu sudah, Reno meninggalkan Aira. Dan selama dua minggu juga, Lian setia menemani Aira. Lian adalah sahabat Aira sejak SD. Lian sudah memendam perasaan pada Aira sejak SMP, sayangnya Lian tidak pernah memberitahu perasaannya pada Aira. Lian takut kalau perasaannya ini akan merusak persahabatan mereka yang telah dibangun selama 7 tahun ini.

Selama 5 tahun, Lian memendam perasaannya pada Aira. Dia biarkan perasaan itu mengalir, tanpa perlu mengungkapkannya. Menurut Lian.

“sekarang loe makan ya? Loe belum makan seharian ini.” pinta Lian melepaskan pelukannya.
“ngga ah gue ngga laper.”
“ngga laper gimana? Loe seharian ini belum makan apa-apa tau Ra.” Lian menunjukkan nada khawatir pada Aira.
“tapi loe makan juga ya. Loe belum makan kan gara-gara temenin gue nangis mulu?” Aira menyimpulkan senyuman pada Lian.
“yaudah, yuk cari makan!”


****


Seminggu telah berlalu. Aira tidak lagi menunjukkan muka sedihnya pada setiap orang. Begitu juga dengan perasaannya. Ia selalu ingat dengan perkataan Lian seminggu yang lalu. Ia ingin bahagia tanpa seorang Reno, ia mulai membuka lembaran barunya. Lian juga senang bisa melihat Aira kembali seperti dulu lagi.

Ketika mereka berada di taman sekolah, Lian memulai pembicaraannya dengan Aira.

“Ra, mau ikut gue ngga?” pinta Lian.
“kemana Yan?”
 “ke tempat yang bisa bikin loe ngelupain masalah-masalah dalam hidup loe.” Ujar Lian tersenyum.
“yaudah, ntar gue ijin sama nyokap dulu.”
“udah gue ijinin kok Ra.”
“hah? Kapan?” Tanya Aira.
“tadi pagi, gue kan sempet bincang-bincang gitu sama calon mertua gue. Sekalian minta ijin buat ngajak loe jalan.” Ucap Lian dengan pedenya.
“idih, pede bener loe Yan! Belom tentu bokap-nyokap gue mau nerima loe jadi menantunya. Haha” Aira tertawa lepas. Lian senang jika melihat Aira tertawa seperti ini. Aira sudah bisa melupakan Reno-nya.
“orangtua mana sih yang ngga mau jadi mertua gue? gue tuh uda cakep, pinter, sopan, pokoknya the best lah buat jadi seorang menantu.” Ucap Lian sambil membusungkan dada bidangnya.
Aira mencibir.


Teeeeeettt..

“eh balik ke kelas yuk! Uda masuk tuh.” Ajak Lian sambil mengulurkan tangannya pada Aira.
Aira menyambut uluran tangan Lian itu.


****


Tempat yang indah. Sesuai dengan janji Lian.

ya tuhan. Sungguh indah ciptaanmu. Ternyata masih ada tempat seperti ini di kota Jakarta yang penuh polusi ini. batin Aira mengamati sekelilingnya.
            “gue sering banget kesini. Ini tempat favorite gue. Dan loe itu orang pertama yang gue ajak kesini.” Ucap Lian mencoba duduk di rumput hijau depan danau indah ini.
            “danaunya indah. Ternyata masih ada tempat kaya gini di Jakarta. Gimana ceritanya sih loe bisa nemuin tempat indah kaya gini?” Aira masih terpana dengan keindahan yang terpampang di depannya ini.

            Lian hanya tersenyum.

            Tempat mereka berada saat ini memang sangat indah. Ada danau disana. Airnya yang berwarna hijau menandakan kesejukan. Disana juga ada taman yang indah dan beberapa pepohonan.

            “loe suka tempat ini?” Tanya Lian memandang sahabat yang dicintainya ini.
            “suka banget. Tempatnya sejuk.”
            Lian hanya memandang Aira yang masih terpana dengan tempat ini. Sampai akhirnya Aira menyadari kalau dari tadi Lian memandangi Aira.
            “loe… kenapa ngeliatin gue kaya gitu?” Tanya Aira risih.
            “hah? Eee.. engga papa kok.” Lian yang mulai salah tingkah memalingkan mukanya ke arah lain.

            Aira sendiri juga mulai salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh Keduanya terjebak dalam keheningan. Lian merasa canggung melihat ke arah Aira karena kepergok mengamati Aira. Sampai akhirnya, Lian mendapat keberanian untuk memulai kembali pembicaraan mereka.

            “Ra, gue sayang sama loe. Sayang banget.” Ucap Lian mantap.
            “haha gue tau kok Yan. Kita kan udah sahabatan dari kecil. Gue juga sayang sama loe kali!”
            Lian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kuat-kuat.
            “loe pernah nyadar ngga sih? selama ini gue tu suka sama loe, cinta sama loe, sayang sama loe. Bukan sebagai sahabat. Tapi loe ngga pernah menyadari perasaan gue ini.”
Entah kekuatan darimana, akhirnya Lian mempunyai keberanian buat ngungkapin perasaan itu sekarang.

            Aira terkejut. Dia terkejut bukan karena Lian mengungkapkan perasaannya. Tapi karena firasatnya selama ini benar. Lian salah. Aira bukan tidak menyadari akan perasaan Lian. Aira hanya ragu. Dari dalam lubuk hati Aira yang paling dalam, dia juga merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Entah apa namanya. Dia sudah merasakannya sejak pertama dekat dengan Lian. Tapi Aira ngga pernah menyadari kalau yang tengah dirasakannya itu adalah Cinta. Bahkan setelah berpacaran dengan Reno, Aira masih merasakannya.

            “eeeee… hhmm.. loe serius Yan?” Tanya Aira ragu.
            “loe pikir gue main-main Ra? Gue serius.” Jawab Lian menatap kedua mata Aira, berniat untuk meyakinkan.
            Aira hanya terdiam. Dipikirannya hanya ada Lian saat ini. terutama perkataannya barusan.
            “loe boleh pikirin soal perkataan gue.”
            “hhm, gue.. gue.. belum mikirin soal itu. Gue bingung sama perasaan gue sendiri” Jawab Aira akhirnya.
            “gapapa, gue bisa ngerti.” Ucap Lian tersenyum.
            Aira membalas senyuman Lian.
            “pulang yuk! Udah sore.” Ajak Lian.



****

Malamnya, tepat jam 7, Aira mulai yakin dengan perasaannya. Dia memang sayang dengan Lian. Selama ini dia tidak menyadari hal itu. Dan saat itu juga, Aira merasa kangen dengan Lian. Dia ingin bertemu Lian saat ini juga. Aira memutuskan untuk menelepon Lian.

“halo..” sapa Aira.
“halo Ra, ada apa nelpon gue?”
“gue pengen ketemu sama elo.”
“yaudah. Gue jemput lo sekarang.”
“oke. see u later.”
“see u too.”
Tuut tuuuut…
Telepon dimatikan.


****


Sesampai di taman dekat kompleks rumah Aira.

            “Ra..” Lian memecah keheningan diantara mereka.
            “ya?”
            “udah loe pikirin?”
            “udah.”
            “apa jawaban loe?”
            “gue ngga bisa. Maafin gue.”

            Hati Lian serasa disambar petir seketika. Saat itu juga Lian hanya bisa menunduk, tak tau harus bagaimana. Pupuslah sudah!

            “gue ngga bisa bohongin perasaan gue. maafin gue ternyata gue emang sayang sama sahabat gue sendiri. Rasa sayang lebih dari sahabat.” Ujar Aira sambil tersenyum menahan tawa.

            Lian yang terkejut dengan perkataan Aira, segera merengkuh gadis ini dalam pelukannya.
Saat itu juga, Aira melihat sosok alm. Reno tak jauh dari dirinya. Reno berdiri sambil tersenyum kepada Aira.

Lian mengecup pelan kening Aira.

“Renoooo, gue janji akan ngebahagiain Aira.” Ucap Lian setengah berteriak.

Inilah rencana indah yang tuhan janjikan. Sahabat bisa menjadi cinta. Dan bulan purnama, menjadi saksi cinta mereka berdua.

agan agan cemuaaahh ..
gimana cerpennya ? asekk tak ?
cerpen itu ane copas dari mbak Sasha Nawita 
(http://www.facebook.com/sasha.nawita)
hehe :D

Label:


Older Post | Newer Post
Welcome Readers



Welcome to my blog, Readers! I hope you can find anything in here :) ! do leave a comment and come back another time! hehe :D


Photo of the Day




Silahkan Pilih



Credit